Produk Kami

Negara 100 Kata

Rp 45,000.00

  • DAFTAR CERITA

    1.Para dukun berdiri melingkar membakar kemenyan dan mengeluarkan seluruh ilmu tenaga dalam. Mantra-mantra dirapal menggaung memekakkan angkasa. Para kyai duduk melingkar melafalkan zikir yang paling khidmat, dan doa-doa yang serentak dipanjat. Para ahli waspada bersiap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Para preman mengawal seluruh warga Desa Guwalan yang tak lagi memiliki kegentaran dalam hati. Semuanya sudah dipersiapkan secara matang. Malam ini kesumat akan ditunaikan. Halaman 1

    2.Parahnya, yang kutangkap dari gelagatnya, Beliau meminta pernikahan ini ditunda sampai aku berhasil mendapatkan pekerjaan yang lebih (terdengar) bagus dari calon menantu saingannya. Entah ini gila atau tidak gila, yang jelas aku telah berhasil dibuatnya menjadi gila! Halaman 15

    3."Ta, tiga bulan lagi kita akan menikah. Kenapa kita tidak segera melanjutkan persiapan kita yang baru seperempat? Mengunjungi tempat katering yang disarankan Ratih, atau kita bisa membahas bagaimana detail resepsi pernikahan kita nantinya? Maksudku, kenapa kau justru memintaku membaca buku-buku yang tebalnya sudah seperti buku diary Nabi Ibrahim ini?" Halaman 27

    4."Terserah apa katamu, Gong! Tapi lihatlah! Semuanya berjalan baik-baik saja! Orang-orang itu hanya membutuh-kan ketenangan dengan adanya kita. Apa kau inginmenghancurkan itu semua? Apa kau ingin melihat Keraton menjadi lemah tak berdaya karena dianggap tidak memiliki juru selamat yang menjaga kota?! Ha?!" Halaman 45

    5.Kini, untuk pertama kalinya, ia mengenakan setelan jas hitam dengan dasi merah muda. Meski hasil undian yang membuatnya menjadi presiden begitu mengejutkannya, tapi tak sedikitpun tampak kegugupan di raut wajahnya. Sekali lagi ia menata rambutnya, kemudian berdiri di panggung untuk memberikan pidato kepresidenan untuk pertama kalinya. Halaman 57

    6.Bahkan hanya dengan mengingat kejadian itu, aku telah merasakan samar-samar rasa gatal di sekujur tubuhku. Saat itu aku berusia belasan. Lengan-lenganku sedang belajar memanjang. Dua minggu sebelum Nyepi dirayakan, wabah ulat bulu tiba-tiba menyerang bagai deras hujan yang tak tertangguhkan. Ulat bulu, yang jumlahnya berpuluh-puluh ribu itu, hinggap di semua tempat. Membuat desa kami seperti dirundung halimun gelap dengan bulu-bulu hitam pekat yang bertebar lebat. Halaman 71


    7.Tawa kembali pecah. Pecah sepecah-pecahnya. Apalagi ketika Ryan memprak-tekkan bagaimana gaya beronaninya. Para Pembuat Onar itu terpingkal-pingkal dan tak segan menggebrak-gebrak meja. Halaman 83

    8."Tapi, kau boleh meninggalkanku dan menikah lagi dengan seseorang yang lebih baik, lebih tidak merepotkan, dan jelas-jelas tidak akan melupakanmu. Mungkin memang lebih baik begitu. Aku ikhlas. Kau tidak usah menghiraukan-ku. Aku akan baik-baik saja. Toh, dengan penyakit ini, aku tidak perlu tersiksa karena pasti aku dengan mudah melupakanmu." Halaman 103

    9.Hilangnya 2.709.629 warga dari ke sembilan desa ini bukan sekadar meninggalkan luka dan dendam karena kehilangan. Tapi, lebih dari itu, di samping lenyapnya nyaris tiga juta warga dari ke sembilan desa itu, kejadian ini juga berhasil mengganggu kegiatan perekonomian di masing-masing desa. Halaman 119

    10.Giman telah berhasil menemukan calon pembeli lewat forum jula beli akik di dunia maya. Dan gilanya, pembeli itu sepakat dengan harga yang ternyata justru lebih dari yang sempat Karyo dan Giman kira. 375 juta. Ya, 375 juta. Harga tertinggi dari tiga calon pembelinya. Kedua keluarga tersebut nampak sangat bahagia. Dan tentu saja, Karyo adalah orang yang paling berbahagia di antara mereka. Atau mungkin juga, di seluruh dunia. Halaman 133

    11.Empat hari pasca penemuan bayi di dusun Kaligeni. Nyaris semua warga dusun berkumpul khusyuk di depan televisi. Pertanyaan-pertanyaan berupa 'apa?', 'siapa?', 'mengapa?', dan 'bagaimana?', hari ini akan menemukan jodoh jawabannya. Halaman 145

    12.Perempuan tua itu kini telah selesai menembang. Malam, seketika lengang bagai tanah pekuburan yang telah lama tak diacuhkan−seolah menujukkan bahwa kini tidak ada lagi yang perlu diingat-ingat dari kematian. Perempuan tua dengan bibir sumbing paling sumbing hingga tidak memungkinkan baginya untuk cukup jelas berbicara, duduk bersimpuh menatap wajah orang-orang yang melingkari-nya. Orang-orang tak bergerak barang seinci dari duduknya. Takjub menatap ceruk kedalaman matanya. Tak lama, perempuan tua itu mulai bercerita. Halaman 1613.Aku lebih senang menipu dan mencuri diam-diam. Sedang Karyo cenderung dengan hal-hal yang penuh tantangan seperti menjambret, memalak, bahkan menodong dengan pisau yang pernah dicurinya di sebuah pasar hewan. Kami tetap bersahabat meski berbeda cara. Kami tidak memperdebatkannya, malah saling mengajarkan trik-trik satu dan lainnya. Malah sempat dalam dua bulan, sebagai bentuk menghormati jalinan persahabatan, kami bergantian menggunakan cara mendapatkan uang. Hari ini pakai caraku. Besoknya pakai cara Karyo yang keras itu. Begitu seterusnya. Sampai kami menyadarinya, bahwa cara ini malah tidak cukup memuaskan hasilnya. Halaman 169


    Related Product

    Impian Si Bocah Polos

    Impian Si Bocah...

    NEW RELEASE Rp 45,000.00