Produk Kami

MENYINGKAP MISTERI POLA 575 HAIKU

Rp 60,000.00

  • KATA PENGANTAR

    BUKU SAKU HAIKU DAN TREND PUISI DI INTERNET

    Catatan Pengantar: Dimas Arika Mihardja71)

    DUNIA Teknologi Informasi (TI) memberikan gambaran tentang keberagaman informasi dan genre komunikasi. Terkait Teknologi Informasi (TI) ini seorang Imron Tohari (IT) tergugah menerbitkan "Buku Saku Haiku". Saya menyebutnya sebagai buku saku haiku, bukan lantaran ukuran buku relatif kecil sehingga mudah dimasukkan ke dalam saku, melainkan informasi yang dikemas bertolak dari kata "Apa", "Mengapa",dan "Bagaimana" tentang puisi pendek khas Jepang yang disebut haiku yang kini melalui teknologi informasi sedang "booming" di Indonesia. Kata tanya "Apa", "Mengapa",dan "Bagaimana" ini menghendaki jawaban ringkas dan seinformatif mungkin. Jawaban ringkas dan seinformatif mungkin itu disajikan dalam bahasa yang relatif cair dan"ngepop" memperkenalkan haiku dengan isi-substansi hakikat, sejarah ringkas, karakteristik, hingga perwujudannya menjadikan buku saku ini layak dibawa ke mana pun pergi—naik bus, kereta, dapat dibaca di ruang tunggu, taman, dan perpustakaan atau rumah-rumah baca.

    Buku karya IT ini terbagi dalam beberapa Bab. Pengantar mengungkap ucapan terima kasih dan penyampaian maksud dan tujuan penerbitan buku haiku. Kemudian Bab Satu tentang Sejarah Haiku Jepang yang secara umum mengajak pembaca menelusuri Jejak Haiku Jepang, secara sekilas mengungkap:Apa Haiku? Awal Puisi Pendek Jepang, Shinto dan Buddha pada puisi pendek Jepang, dan Zen Budha pada Haiku, dan sekilas 5 (lima) tokoh haiku. Pada Bab kedua ditampilkan "Konsep Haiku": Struktur Pembentuk Haiku, Perwujudan Haiku dan karakteristik haiku dengan mengkritisi soal-soal: Mengapa Haiku? Mengapa 575? Mengapa Kigo? Mengapa Kireji? Menyoal Kajian Higginson, Henderson dan Antitesis Richard Gilbert Tentang Suku Kata/Silabel Haiku.

    Bab Tiga menyajikan "Perkembangan Haiku" yang berisi paparan tentang: 1. Perkembangan Haiku di Luar Jepang 2. Perkembangan Haiku di Indonesia. Paparan bab ini terkait dengan jawaban pertanyaan "mengapa" dan jawaban itu memanfaatkan sumber informasi utama internet dari berbagai sumber yang dapat diakses oleh IT. Bab Empat menampilkan menulis Haiku berbahasa Indonesia dan Bab Tambahan (Bonus) ditampilkan informasi terkait perkembangan puisi pendek di internet seperti Puisi 2koma7, Newhaiku, Haikuku, Panatha, Puitika, dan lainnya. Bab Tambahan ini merupakan bonus informasi mengenai grup-grup puisi yang eksis di jejaring sosial media dan Imron Tohari selain sebagai pemrakarsa (ide) Puisi 2Koma7 dan Panatha juga aktif di beberapa grup puisi.

    Kesan umum selaku pembaca seusai membaca buku ini, pertama, untuk buku saku yang berisi informasi tentang genre puisi dengan memperkenalkan jawaban atas pertanyaan "apa, mengapa, dan bagaimana" menjadi penting bagi para pemula dan penyuka genre puisi yang diperkenalkan—dalam hal ini haiku. Kedua, jawaban informasi yang berasal dari situs internet baik, dalam arti bersifat umum dan global. Ketiga, bahasa yang digunakan oleh penulis buku lumayan menggunakan ragam akrab dan santai, sehingga kesan "nggurui", "menceramahi", dan "mendikte" tidak terasa dan jauh dari sifat otoriter, melainkan dinamis dan demokratis. Keempat, sebagai buku saku, buku pengantar kearah lebih serius mengenai genre puisi akan lebih baikjika sistematikanya mudah diikuti, misalnya terkait penataan materi sejarah haiku, konsep pengertian haiku, jenis haiku, perkembangan haiku, haiku Jepang dan perkembangannya di manca Negara, apresiasi haiku, dan seterusnya.

    APA, mengapa, bagaimana sebagai basis pertanyaan buku ini tentu saja mengarahkan isi substansi materi pada pengertian mengenai sesuatu, unsur pembentuk sesuatu, bagaimana menulis sesuatu, dan penjelasan filosofis mengenai mengapa sesuatu itu memiliki ciri dan corak tertentu, karakteristik tertentu, dan sebagainya. Buku ini secara elementer memang telah menjawab pertanyaan "apa, mengapa, dan bagaimana" tentang haiku. Akan tetapi lalu muncul pertanyaan, "untuk kalangan manakah buku ini? Pelajar? Mahasiswa? Umum? Khusus pencinta genre puisi? Terlepas dari pertanyaan ini, buku ini dapat mengisi pangsa pasar mengenai genre puisi dan memberikan kontribusi mengenai perkenalan genre haiku.

    Buku karya Imron Tohari (IT) ini, merupakan upaya membumikan haiku di persada nusantara sebagai satu alternatif pilihan di antara pilihan lainnya: puisi 2koma7 (dua larik tujuh kata) grup yang telah eksis lebih dulu, puisi PADMA 4444 yang dipandegani oleh Imron Tohari, puisi Persagi, puisi Sonian, Sakmasek, dan lainnya. Kelahiran dan kehadiran genre puisi-puisi ini mengundang dan mengandung kontroversial, pro dan kontra. Namun, grup-grup puisi ini tetap eksis dan diminati banyak orang. Rupanya grup-grup puisi ini selain memberikan tawaran alternatif berekspresi, juga mewadahi interaksi interpersonal di antara anggotanya. Jika grup puisi 2koma7 telah menerbitkan 4 (empat) buku: "Puisi 2koma7 Apresiasi dan Kolaborasi", "Mendaras Cahaya"," Nyanyian Kafilah", dan "Jalan Terjal Berliku Menuju-Mu" (semua diterbitkan oleh Bengkel Publisher tahun 2014 dan 2015), kini bermunculan pihak-pihak yang menerbitkan buku tentang haiku, tentang Sonian, dan sebagainya. Semua harus dicatatat, semua mendapatkan tempat. Selamat bagi siapa saja yang peduli menafasi puisi, apapun jenis dan manifestasinya.

    Mengapa haiku dijadikan pilihan? Jawaban atas pertanyaan ini di antaranya: Pertama, gambaran suasana menonjol oleh hadirnya makna yang mengesankan pada kesederhanaan haiku. Makna yang mengesankan oleh gambaran suasana inilah yang pertama-tama dipahami oleh pembaca. Pembaca harus memahami makna lugas ini untuk memahami makna utuh haiku. Kedua, penggunaan kata kongkret dan khas serta penataan kata-kata itu dalam tiga larik haiku sedemikian rupa sehingga menggugah timbulnya imaji disebut pengimajian atau pencitraan terkait dengan gambaran suasana/musim/waktu. Ketiga, pengiasan dalam haiku merupakan penggunaan kata atau ungkapan dalam haiku sedemikian rupa sehingga timbul makna kias yang dapat memperkongkret, memperlengkap, mempercermat, dan memperkhas imaji sesuatu yang diungkapkan dalam haiku, yang hasilnya berupa aforisma atau metafora yang memesona. Keempat, oleh karena haiku tergolong puisi pendek, padu, padat, maka diperlukan perlambangan. Perlambangan adalah penggunaan kata atau ungkapan dalaam haiku sedemikian rupa sehingga timbul makna lambang yang dapatmemperkongkret, memperlengkap, mempercermat, dan memperkhas imaji sesuatu yang diungkapkan dalam haiku. Kelima, makna utuh haiku dapat dipahami, dihayati dan diapresiasi apabila makna tersurat dan tersirat memiliki hubungan yang terjelma karena adanyahubungan saling menentukan antara pengimajian, pengiasan, dan pelambangan.

    Makna keseluruhan sebuah haiku pada hakikatnya adalah sebuah pengalaman penyair, pengalaman indra (kesan perasaan dan emosional) yang jauh dari pengalaman nalar, yang diungkapkan dengan bahasa yang khas (dengan pengimajian, pengiasan, pelambangan) sehingga pengalaman itu hadir utuh-menyeluruh pada haiku yang dapat ditangkap oleh pembaca sebagai sesuatu yang kongkret, padat, dan khas serta sugestif atau menggugah nalar dan batin pembaca.

    Keseimbangan antara perasaan nikmat dan perenungan perlu tetap terpelihara ketika kita membaca dan berusaha memahami makna utuh sebuah haiku. Keunggulan haiku justru terletak pada "kesederhanaan" dalam pilihan kata, tersusun dalam suku kata terbatas, dan mampu mengungkapkan kesan perasaan dan emosional tertentu.

    Sebagai buku yang berisi pengantar ringkas mengenai haiku: konsep, sejarah, unsur pembentuk, dan rambu-rambu bagaimana menulis haiku yang terpapar dengan bahasa yang ngepop—jauh dari kesan ilmiah, maka buku ini memiliki pangsa pasar tersendiri, khususnya pembaca umum yang berminat pada genre sastra dalam hal ini puisi pendek yang tak bernafas pendek. Demikianlah catatan umum seusai membaca buku ini.

    Selamat, salam doa, dan jabat erat.

    Jambi, Agustus 2015


    Related Product

    PER[T]EMPU[R]AN

    PER[T]EMPU[R]AN...

    BEST SELLER Rp 50,000.00